Pages

Jumat, 23 September 2011

HANDPHONE di dalam PENERBANGAN, versus HANDPHONE di dalam GEREJA

HANDPHONE di dalam PENERBANGAN, versus HANDPHONE di dalam GEREJA

Mungkin judul diatas, seperti sebuah pembanding yang Kontras dan Aneh. Tetapi itulah kenyataannya, dan apa yang saya akan share disini bukanlah mau menggurui, dsb.
Saya hanyalah sesorang yang merasa 'TERTEGUR' (secara pribadi) dengan apa yang sudah TUHAN ingatkan dalam diri saya.

NAIK PESAWAT?.
Yaa...bagi sebagian dari kita, itu adalah hal yang mungkin jarang atau tidak pernah sama sekali. Tetapi bagi sebagian dari kita, sudah sering kali naik pesawat, bahkan 'bekerja' di pesawat.
Seperti layaknya sebuah prosedur penerbangan, saat kita akan melakukan sebuah penerbangan, semua HANPHONE harus DIMATIKAN atau berada dalam OFLLINE/FLIGHT MODE. Karena dapat menggangu sistim navigasi pesawat.

Hal itu berarti 'memutuskan' sementara terhadap semua hubungan dengan sinyal operator handphone kita masing-masing, dan menyalakannya kembali saat pesawat telah mendarat, dan berhenti dengan sempurna di bandara tujuan.
Tentu kita sudah paham akan hal ini, dan mengikuti prosedur ini, karena ingin 'nyawa' kita selamat selama penerbangan, dan tidak ingin juga mendapat masalah dengan awak pesawat karena menolak mematikan handphone.

Saya sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Jumat siang, saya merasa TUHAN tegur langsung di dalam sebuah ibadah di salah satu kota saat saya sedang pelayanan disana. Biasanya saya hanya me-nonaktifkan nada dering saja, dan masuk dalam menu Vibrate, dan semua sms, telp masih dapat tetap masuk tanpa ada ringtonenya. Tetapi hari itu, saat ibadah baru dimulai, tiba2 seperti ada 'sesuatu' yg berbicara sangat tegas dalam batin saya. Secara umumnya seperti ini...

"Kamu, sangat menjaga dan aware dengan safety di dalam dunia penerbangan, dan mematuhi segala prosedurnya. Kamu sanggup mematikan handphone-mu selama penerbangan berlangsung demi menghormati dan menjaga sebuah prosedur keselamatan, dan menghindari masalah dengan awak pesawat karena menyalakan handphone.
Masa dirimu tidak dapat mematikan handphonemu untuk AKU hanya dua sampai tiga jam saja?. Apakah AKU tidak lebih dari sebuah penerbangan dan awak pesawat sehingga kamu lebih mementingkan mematuhi mereka ketimbang menghormati KU?".

Saya tidak menunggu lama... saya ambil handphone dari saku celana saya, saya sms calon istri saya, saya kabarin dia, jika saya OFFLINE selama ibadah berlangsung dan akan ONLINE lagi setelah ibadah selesai. Singkat cerita, saya OFFLINE handphone saya ke menu Flight Mode (karena Alkitab saya ada di Handphone). Hari itu saya ibadah dengan air mata yang menggenang di mata saya. Saya minta ampun ke TUHAN, selama ini saya tidak sadar bahwa secara tidak langsung saya 'merendahkan' TUHAN lebih rendah dari sebuah penerbangan.

Mari kita jujur saja, jika handphone kita tetap menyala dalam ibadah, meskipun dalam menu Vibrate/getar. Perhatian dan konsentrasi kita terusik dengan adanya SMS yang masuk, atau telepon yang masuk, bahkan saya juga kerap menemui, malah BER-FACEBOOK ria selama firman Tuhan.

Kembali lagi seperti apa yg dikatakan dalam Firman TUHAN, ALLAH kita adalah ALLAH yg cemburu. dalam artian ALLAH kita tidak ingin ada yang 'menyaingi' keberadaanya.
Secara logika saja, mungkin anda lebih takut terhadap sanksi yang diberikan oleh manusia (kelihatan), dari pada sanksi dari TUHAN (yang 'belum' kelihatan).

Jika kita bertemu dengan Bapak Presiden, mungkin kita akan menghadap dengan kondisi kita yang terbaik. Berpakaian paling rapi, menggunakan parfum yang terbaik, make up atau menyisir rambut kita dengan sangat rapi, dan bertatap muka dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikatakan bapak Presiden. Dan sangatlah tidak mungkin saat kita bertemu Presiden, kita berani angkat telepon atau ber sms ria, apalagi bermain facebook di hadapan beliau, sementara beliau berbicara kepada kita. Betul????
Jika berani pasti anda akan ditendang oleh PASPAMPRES keluar dari Istana Negara dalam waktu singkat.

TUHAN lebih tinggi dari jabatan seorang Presiden. TUHAN adalah Pencipta kita. Sudah selayaknya TUHAN mendapat tempat dan perlakuan tertinggi dalam kehidupan kita.
TUHAN hanya minta matikan handphone sesaat saja dalam ibadah. Hanya untuk berkonsentrasi pada NYA, dan 'mendengarkan' apa yang TUHAN inginkan dalam kehidupan kita.

Saya baru tersadar, saat kita beribadah, kita itu sebetulnya melaksanakan 'TAKE OFF' untuk menikmati 'penerbangan' sesaat bersama TUHAN yang menjadi Pilot (PIC) kita. Dan kita pasti aman bersamaNYA. Kita harus mematikan handphone dan menyelaraskan tubuh, jiwa dan roh kita hanya kepada TUHAN. Ada saatnya ibadah baru berakhir, itulah 'LANDING' bersama TUHAN yang manis. Setelah kita menikmati 'penerbangan' terbang sesaat meninggalkan dunia sejenak bersama TUHAN, TUHAN memperlengkapi kita dengan Damai sejahtera, kekuatan baru, serta penghiburan dan berkat berkatNYA, untuk kita kembali menjalankan aktivitas kita di dunia ini. Saat ibadah telah selesai itulah, silahkan menyalakan handphone anda kembali.

Mungkin ada dari kita PRO dan KONTRA terhadap apa yang saya tulis di pagi ini. Hal itu sah-sah saja. Tetapi terlepas dari semuanya itu, saya hanya ingin membagikan tentang apa yang saya dapat beberapa saat lalu.

Mari kita bersama-sama mematikan atau meng-offline kan Handphone, PDA, iPhone, Blackberry kita selama ibadah.

Semoga Tulisan ini dapat menjadi berkat...
GBU

=================
Sumber:
Vincent Herdison
Jakarta, 21 April 2010
06:38 WIB (GMT +7)
http://www.facebook.com/vincentpiano

Imam Religius dan Imam Diosesan

1. Siapa itu imam Katolik?
Seorang imam Katolik adalah seorang laki-laki yang dipanggil Tuhan untuk melayani Gereja dalam pribadi Kristus sang Kepala. Ia adalah seorang yang mengasihi Tuhan, Gereja dan Umat yang ia layani. Ia mengamalkan kasihnya ini melalui ikrar setia selibat, ketaatan dan kesahajaan hidup. Ia adalah seorang yang berakar dalam doa, yang dengan sukacita dan semangat rela berkorban memberikan hidupnya bagi sesama.

2. Siapa itu imam diosesan?
Seorang Imam Diosesan adalah seorang Imam Paroki. “Diosesan” berasal dari kata Yunani yang berarti “menata rumah,” dan kata Yunani “paroki” yang berartJustify Fulli “tinggal dekat.” Seorang imam diosesan adalah seorang imam yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari umat. Ia “tinggal dekat mereka” dalam segala hal, dan membantu uskup setempat untuk “menata rumah” dalam keluarga Allah, entah sebagai seorang pastor pembantu atau sebagai pastor kepala paroki (dan kadang kala dalam pelayanan-pelayanan seperti pengajaran, atau melayani sebagai pastor mahasiswa, atau pastor di rumah sakit, di pangkalan militer, atau di penjara). Seorang pastor paroki bertanggung jawab atas segala pelayanan yang diselenggarakan oleh paroki dan atas administrasi paroki.

Sebagian besar imam di seluruh dunia adalah imam diosesan. Mereka ini ditahbiskan untuk berkarya di suatu diosis (= keuskupan) atau di suatu arki-diosis (= keuskupan agung) tertentu. Seorang imam diosesan merupakan bagian dari satu presbiterium (= dewan imam), yang beranggotakan para imam dari suatu diosis/arki-diosis yang sama, dan karenanya berada di bawah kepemimpinan uskup yang sama.

Pada saat ditahbiskan sebagai diakon (biasanya sekitar satu tahun sebelum ditahbiskan sebagai imam) mereka berikrar setia untuk menghormati dan mentaati uskup diosesan dan para penerusnya. Mereka juga berikrar setia untuk hidup dalam kemurnian, dan sesuai dengan status klerus mereka (termasuk di dalamnya hidup bersahaja). Berbicara secara teknis, para imam diosesan tidak mengucapkan kaul dan tidak berikrar kemiskinan. Mereka menerima gaji sekedarnya dari paroki atau lembaga Katolik lainnya yang mereka layani. Oleh karena tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan dasar telah dipenuhi oleh paroki di mana mereka berkarya, maka gaji mereka yang sedikit itu lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan-keperluan pribadi mereka, misalnya pakaian, biaya berlibur, mobil dan sumbangan amal kasih.
Dalam tahbisan diakonat, uskup menerima ikrar setia para diakon dan para imam, dan dengan demikian menginkardinasi mereka ke dalam keuskupan. Ini mendatangkan hak-hak tertentu bagi diakon calon imam dan imam diosesan - misalnya hak untuk mendapatkan dukungan dari gereja diosesan - dan mengenakan kepada mereka kewajiban untuk berkarya bagi gereja diosesan di bawah kepemimpinan uskup. Ini merupakan komitmen atas tanggung jawab seumur hidup. Karena sebagian besar karya keuskupan dilaksanakan di paroki-paroki, maka pada umumnya seorang imam diosesan berkarya di suatu paroki. Imam diosesan sering juga disebut imam praja atau imam sekulir, sebab karya utama mereka adalah pastoral, yaitu membantu umat yang berada dalam dunia pada masa sekarang ini (Latin saeculum, artinya dunia, masa).

3. Apa beda imam religius dan imam diosesan?

Seorang imam religius adalah anggota dari suatu ordo atau lembaga religius. Suatu ordo atau lembaga religius adalah suatu serikat yang dibentuk Gereja guna mempromosikan suatu gaya hidup atau suatu spiritualitas tertentu, atau untuk melaksanakan suatu karya tertentu. Sebagian besar anggota komunitas religius berkarya di lebih dari satu keuskupan, dan banyak lainnya berkarya lintas negara. Setiap komunitas religius memiliki konstitusinya sendiri, dan para anggotanya hidup menurut suatu peraturan hidup yang ditetapkan. Sebagian anggota komunitas religius berkarya di paroki-paroki, sedangkan yang lainnya tidak. Para imam religius berkarya sebagai pastor rumah sakit, memberikan retret, mengajar, pembicara, pastor paroki, misionaris dan di berbagai macam bidang lainnya. Setiap komunitas religius memiliki karisma, atau karunia Roh Kudus. Para imam yang adalah anggota suatu komunitas religius membawa karisma itu ke dalam karya mereka.

Uskup diosesan mengawasi para imam religius apabila para imam ini terlibat dalam pelayanan aktif dalam keuskupannya. Tidak ada suatu komunitas pun yang dapat berkarya di suatu diosis tanpa ijin uskup diosesan. Superior komunitas religius mengawasi karya internal komunitas. Jika suatu komunitas religius melayani kebutuhan umat di suatu paroki tertentu, maka komunitas religius tersebut berkarya berdasarkan suatu kesepakatan dengan uskup diosesan.

Seorang imam religius mengucapkan kaul kemurnian, kaul ketaatan dan kaul kemiskinan; mereka tidak diperkenankan memiliki harta pribadi. Biasanya, imam religius tinggal bersama sejumlah imam atau broeder dari komunitas religiusnya. Pada umumnya, mereka berkarya dalam suatu pelayanan tertentu, misalnya pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan atau karya misi. Pelayanannya kepada Gereja dapat menjangkau melintasi batas-batas keuskupan: ia dapat saja diutus ke manapun di suatu pelosok dunia di mana komunitasnya berkarya. Sebaliknya, seorang imam diosesan, pada umumnya melayani sebatas wilayah keuskupan di mana ia ditahbiskan. Ia tunduk pada uskup diosesan. Seorang imam diosesan tidak mengucapkan kaul.

7. Bagaimanakah hari-hari seorang imam?
Seorang imam bekerja dan berkarya setiap hari demi membangun jembatan antara langit dan bumi. Imam membawa Tuhan kepada manusia dan manusia kepada Tuhan. Setiap hari berbeda baginya, tergantung pada karya di mana ia terlibat. Namun demikian, satu hal yang pasti bagi setiap imam adalah merayakan Misa. Setiap imam sebisanya merayakan Ekaristi setiap hari. Dengan menghadirkan Yesus dalam Ekaristi, imam dipanggil untuk menghadirkan Yesus pula dalam setiap detik hidupnya. Hal ini mungkin terjadi pada saat pertemuan, kunjungan ke rumah atau rumah sakit, mengajar, menyampaikan khotbah ataupun sekedar hadir bersama yang lain. Sungguh, hari-hari seorang imam adalah hari-hari yang sibuk, melelahkan, beragam variasi, namun mendatangkan keselamatan, yang menuntut stamina fisik, disiplin mental dan kedewasaan rohani. Hidup seorang imam adalah hidup bagi orang lain; hidup bagi pelayanan kasih. Jadi, meski kesibukan dalam hari-harinya tak dapat diprediksi, tetapi wajib senantiasa merupakan pelayanan kasih, pertama-tama bagi Tuhan, dan kemudian bagi sesama.

8. Apakah seorang imam diosesan mendapatkan suatu pelatihan khusus?
Seorang imam diosesan pertama-tama dipersiapkan untuk menjadi seorang imam paroki. Ia mendapatkan pendidikan dan pelatihan untuk melakukan segala hal yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari Gereja. Ia dapat juga menerima pelatihan khusus dalam bidang seperti konseling, pengajaran, pelayanan kaum muda, komunikasi, bekerja untuk orang-orang miskin, dan bidang-bidang lain yang dianggap perlu oleh Gereja.

9. Dapatkah seorang imam diosesan melayani di luar keuskupannya?
Terkadang, seorang imam diosesan dapat meminta ijin kepada uskup untuk melayani di luar keuskupannya. Seorang imam diosesan dapat melayani sebagai guru, misionaris, atau dalam kapasitas lainnya di suatu keuskupan lain.

10. Siapakah yang memiliki kualifikasi menjadi seorang imam?
Seorang laki-laki single dengan intelegensi sekurangnya rata-rata, emosional yang stabil, memiliki kemurahan hati dan kasih yang tulus bagi Tuhan pantas bagi imamat. Ia hendaknya seorang yang menikmati bekerja dengan beragam orang dan memiliki komitmen untuk menjadikan dunia suatu tempat yang lebih baik bagi umat manusia melalui pelayanan imamat. Ia hendaknya seorang individu yang penuh sukacita yang mencintai hidup dan bersedia memberikan segala-galanya bagi apapun yang Tuhan kehendaki darinya. Ia wajib mengejar kekudusan, setia pada ajaran-ajaran Gereja Katolik dan setia kepada Bapa Suci.

13. Apakah saya harus meninggalkan keluarga, teman dan sahabat demi memenuhi panggilan imamat atau hidup religius?
Tidak. Sesungguhnya, keluarga, teman dan sahabat merupakan pendukung yang sangat penting bagi panggilan baik imam, biarawan maupun biarawati. Mereka didorong untuk ambil bagian dalam kejadian dan peristiwa-peristiwa keluarga dan menemukan cara demi mendukung para anggota keluarga melalui doa dan peran mereka. Hendaknya tuntutan Umat Allah atau komunitas religius mendapatkan prioritas dalam hidupmu. Dalam hal ini, engkau “meninggalkan” keluarga, teman dan sahabat. Tetapi, ingatlah akan janji Yesus dalam Injil Matius, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19:29).

14. Bagaimana jika saya merasa tidak layak menjadi seorang imam?

Kamu tidak sendiri! Tak seorang pun yang sesungguhnya “layak”. Bukan dari diri kita sendiri, melainkan Yesus bersabda, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Dengan panggilan, datanglah rahmat untuk menanggapi panggilan dengan murah hati dan segenap hati dan untuk masuk ke dalam suatu perubahan sepanjang hidup menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

sumber :1. “Heed the Call Vocation Office for Diocesan Priesthood”; www.heedthecall.org; 2. “St John The Evangelist Catholic Church”; www.stjohnsphilly.com; 3. “Office of Vocations Diocese of Toledo”; www.toledovocations.com; 4. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”



Penjelasan dari Rm. Y. Dwi Harsanto, Pr

Nama romo-romo diosesan sering diakhiri dengan huruf "Pr", yang di Jawa Tengah disebut "Projo". Namun aslinya ialah "Presbyter", (Yun) yang artinya "Imam" atau "Tua-Tua". Bahasa Inggrisnya "Priest". Saya sendiri Imam KAS, namun karena tugas di KWI, dan karenanya mesti "mens sana in corpore sano" (maen ke sana maen ke sono), maka di tempat-tempat lain itu sering ditanya ttg arti "Projo" yg sebenarnya khas Jawa Tengah saja haha... Beberapa saudara kita di luar konteks Jateng tak suka dengan "Projo" yang kejawa-jawaan itu haha... mirip "Satpol Pamong Projo" aja hahaha... Memang untuk konteks Jateng, Projo itu terkait dengan pemerintahan. Maka Imam Projo ialah imam pemerintahan Gereja yang adalah Keuskupan.

Namun pada umumnya, secara internasional, imam diosesan, di nama depannya ada R.D. dan tak usah diakhiri dengan Pr.


RD = Reverendus Dominus.
Maka secara internasional, cukup ditulis nama imam itu misalnya: RD. Benediktus Susilo. Kalau ditulis Benediktus Susilo Pr maka justru orang Philipina akan bertanya apa maksudnya "Pr" hehe... Dalam negara berbahasa Inggris, cukuplah Father Benediktus Susilo, tak perlu embel-embel Pr. Atau kadang ditulis Rev. Fr Benediktus Susilo. Sebenarnya di Indonesia, cukuplah Romo Susilo saja atau Pastor Susilo atau RD Susilo. Jelas itu imam diosesan jika tanpa embel-embel di belakangnya walaupun tak usah ada "Pr" di belakangnya. Namun kalaupun ditambahi "Pr", maka mesti jelas bahwa di Papua itu bukan "Projo", melainkan "Presbyter". Bahkan di Surabaya pun konon, tak lagi ditambahi embel-embel "Pr" lagi. >Sedangkan nama imam-imam tarekat religius biasanya diawali dengan huruf RP (Reverendus Pater) dan diakhiri dengan huruf tarekatnya misalnya SJ, OFM, SVD, MSF, dll. Contoh: RP. Benediktus Susilo, SVD; atau Fr Benedictus Susilo SVD; atau Rev. Father Benediktus Susilo SVD.

Mengenai "gaji" imam diosesan, sebenarnya yg ada ialah uang saku dari pastoran, di mana jumlah uang saku itupun seragam standardnya se keuskupan. Uang stipendium masuk kas pastoran paroki. Ada aturannya dalam Pedoman Keuangan Pastoran/Paroki tiap Keuskupan, sesuai standard minimal seorang lelaki dewasa lajang bisa hidup normal sebagai imam sesauai tugasnya dlm sebulan dalam zaman sekarang di wilayah itu.


Saya imam diosesan KAS yg kerja di KWI, tidak di paroki. Saya mendapat gaji dari kantor, dan gaji itu untuk menghidupi penyel;enggaraan dan makan-minum kami di rumah kami bersama, rumah UNIO Indonesia di Jakarta, juga utk transportasi pergi-pulang kantor. Jika saya sudah tidak di KWI, sudah kembali ke paroki, saya kembali mendapatkan uang saku sesuai standard pastoran paroki-paroki Keuskupan Agung Semarang. Semuanya cukup untuk hidup wajar sebagai imam untuk menunjang pelayanan. Mgr Haryo pernah menasihati kami: Semangat kemiskinan injili seorang imam diosesan KAS itu ditempatkan dalam konteks pelayanan sakramental dan pembangunan jemaat. Sederhana saja: Kalau tak ada mobil, ya naik sepeda motor. Kalau tak ada sepeda motor, ya naik sepeda onthel. Kalau tak ada sepeda onthel ya kendaraan umum. Kalau tak ada kendaraan umum, ya jalan kaki... " Tapi... hahaha.. biasanya umat akan teriak: "... kami akan jemput..!!"


Salam



Rm Y. Dwi Harsanto, Pr.


Penjelasan dari Br Yoanes, FC:

Imam praja / diosesan itu dari segi imamatnya, sama dengan imam biarawan / religius.

Imam religius itu mempunyai 3 kaul religius (religius lainnya: bruder dan suster, juga mengucapkan 3 kaul religius), sementara imam praja tidak. Imam praja hanya mengucapkan janji selibat secara hukum kanonik dan berjanji setia kepada Uskup.


bukan karena mendapatkan gaji, maka imam praja tidak mengucapkan kaul kemiskinan. Imam religius juga dapat menerima gaji.

(sumber: mailinglist komunikasi_kas)


Apa itu "Imprimatur" dan "Nihil Obstat"?

Apa itu "Imprimatur" dan "Nihil Obstat"?

oleh: Romo William P. Saunders *


Saya seringkali memperhatikan adanya catatan “imprimatur” dan “nihil obstat” pada buku-buku Katolik. Apakah artinya? Apakah catatan itu menunjukkan bahwa buku tersebut mengajarkan apa yang diajarkan Gereja?
~ seorang pembaca di Sterling

Sebelum membahas istilah di atas, patutlah kita ingat bahwa Magisterium, wewenang mengajar Gereja kita, berkewajiban untuk “melindungi umat terhadap kekeliruan dan kelemahan iman dan menjamin baginya kemungkinan obyektif, untuk mengakui iman asli, bebas dari kekeliruan” (Katekismus Gereja Katolik, no 890). Sebab itu, di bawah bimbingan Roh Kudus, yang disebut Tuhan kita sebagai Roh Kebenaran, Magisterium melestarikan, memahami, mengajarkan dan mewartakan kebenaran yang menghantar pada keselamatan.

Dengan tanggung jawab ini, Magisterium akan memeriksa alat-alat komunikasi sosial, dan khususnya buku-buku, mengenai iman dan moral, serta memaklumkan apakah karya-karya tersebut bebas dari kesalahan doktrin. Pada tangal 19 Maret 1975, Kongregasi untuk Ajaran Iman menerbitkan ketentuan-ketentuan berikut mengenai hal ini, “Para gembala Gereja berkewajiban dan berhak untuk menjaga agar iman dan kesusilaan dari kaum beriman kristiani tidak dirugikan oleh tulisan-tulisan atau penggunaan alat-alat komunikasi sosial; demikian juga mereka berhak untuk menuntut agar tulisan-tulisan mengenai iman dan kesusilaan yang mau diterbitkan oleh orang-orang beriman Kristiani, diserahkan kepada penilaian mereka, dan lagi, mereka berhak untuk menolak tulisan yang merugikan iman yang benar atau akhlak yang baik” (Kitab Hukum Kanonik 1983, No. 823).

Proses penilaian akan dimulai ketika penulis menyerahkan naskah kepada censor deputatus (= pemeriksa buku) yang ditunjuk oleh Uskup atau otoritas gerejawi lainnya yang berwenang melakukan pemeriksaan. Jika censor deputatus tidak mendapati adanya kesalahan doktrin dalam naskah tersebut, maka ia memberikan “nihil obstat” untuk menegaskannya. Nihil obstat, yang diterjemahkan sebagai “tidak ada kesesatan”, menyatakan bahwa naskah tersebut aman untuk diserahkan kepada Uskup agar diperiksa supaya Uskup dapat memberikan keputusan.

Demikian juga, seorang anggota suatu komunitas religius akan menyerahkan naskahnya kepada superior maior (= pemimpin tertinggi). Jika naskah tersebut bebas dari kesalahan doktrin, maka superior maior memberikan “imprimi potest”, yang diterjemahkan sebagai “dapat dicetak”. Dengan persetujuan ini, naskah kemudian diserahkan kepada Uskup agar diperiksa supaya Uskup dapat memberikan keputusan.

Jika Uskup setuju bahwa naskah tersebut bebas dari kesalahan doktrin, ia memberikan “imprimatur”; berasal dari bahasa Latin “imprimere” yang artinya menerakan atau membubuhkan stempel. Imprimatur diterjemahkan sebagai “silakan dicetak”. Secara teknis, imprimatur merupakan pernyataan resmi Uskup bahwa buku tersebut bebas dari kesalahan doktrin dan telah disetujui untuk dipublikasikan setelah melewati suatu pemeriksaan yang cermat.

Perlu dicatat bahwa imprimatur merupakan ijin resmi atas karya-karya yang ditulis oleh anggota Gereja dan bukan oleh pengajar resmi Gereja, seperti konsili, sinode, Uskup, dll. Penulis dapat meminta imprimatur dari Uskupnya sendiri atau dari Uskup Diosesan di mana karya tersebut akan dipublikasikan.

Seorang penulis Katolik tentu saja dapat menerbitkan suatu naskah tanpa perlu meminta imprimatur Uskup, tetapi beberapa karya tertentu membutuhkan persetujuan resmi ini sebelum dapat dipergunakan oleh kaum beriman. Buku-buku doa, entah dipakai oleh orang beriman secara umum atau secara pribadi, katekismus dan juga tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan pengajaran kateketik ataupun terjemahan-terjemahannya membutuhkan persetujuan Uskup agar dapat dipublikasikan (Kitab Hukum Kanonik No. 826, 827.1). Buku-buku yang menyangkut soal-soal yang berhubungan dengan Kitab Suci, teologi, hukum kanonik, sejarah Gereja, ilmu agama atau ilmu moral, tidak boleh dipakai sebagai buku pegangan di sekolah dasar, sekolah menengah atau sekolah tinggi, kecuali jika buku itu diterbitkan dengan persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang atau kemudian disetujui olehnya (Kitab Hukum Kanonik No. 827.2). Di dalam gereja-gereja atau tempat-tempat ibadat tidak boleh dipamerkan, dijual atau dihadiahkan buku-buku atau tulisan-tulisan lain tentang soal-soal agama atau moral kecuali yang diterbitkan dengan izin otoritas gerejawi yang berwenang atau yang disetujui olehnya kemudian (Kitab Hukum Kanonik No. 827.4).

Pada dasarnya, pernyataan-pernyataan resmi ini memaklumkan bahwa suatu penerbitan adalah benar sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja mengenai iman dan moral, serta bebas dari kesalahan doktrin. Begitu banyak jiwa terjerumus ke dalam bahaya karena literatur yang salah, yang dipromosikan sebagai sungguh mewakili iman Katolik. Dalam abad di mana penerbitan demikian melimpah, seorang Katolik yang baik patutlah senantiasa berhati-hati dan memeriksa imprimatur sebelum membaca.


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: The Magisterium's 'Imprimatur'” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Matius 13:18-23 Penabur menaburkan benih di berbagai keadaan tanah.

Matius 13:18-23

"Orang yang mendengarkan sabda dan mengerti, menghasilkan buah."

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Dengarkanlah arti perumpamaan tentang penabur. Setiap orang yang mendengar sabda tentang Kerajaan Surga dan tidak mengerti, akan didatangi si jahat, yang akan merampas apa yang ditaburkan dalam hatinya. Itulah benih yang jatuh di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah berbatu-batu ialah orang yang mendengar sabda itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan hanya tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena sabda itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar sabda itu, lalu sabda itu terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan, sehingga tidak berbuah. Sedangkan yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan sabda itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh ganda."

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebuah paroki pernah mengadakan penelitian tentang angkatan baptisan dewasa setelah 10 tahun. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan iman mereka 10 tahun kemudian. Hasilnya sangat menarik. Beberapa dari antara mereka ada yang menjadi aktivis paroki, aktivis keuskupan, aktivis kampus, tetapi ada yang menjadi katolik KTP saja, bahkan ada juga yang telah pindah agama; malah ada satu yang tinggal di penjara karena suatu kejahatan. Dewan Paroki heran mengapa dapat terjadi demikian, padahal pelajaran agama yang diterima sama.

Jawabannya seperti yang diungkapkan Yesus dalam Injil. Meski sabda Tuhan yang ditaburkan sama, tetapi penerimanya lain-lain. Ada yang seperti tanah berbatu, ada yang seperti tanah kering, ada yang tanah subur, dan ada yang dikerumuni duri. Akibatnya, sabda Tuhan itu tumbuh tidak sama, bahkan ada yang mati. Demikian juga ajaran iman yang diterima orang-orang yang dipermandikan dalam waktu sama, dihidupi, diolah olah pribadi manusia yang beda-beda. Maka hasilnya pun berbeda. Ada yang menghasilkan 100 kali, 60 kali, 30 kali.

Apakah aku menjadi tanah yang subur bagi sabda Tuhan yang aku terima? Atau aku tanah yang berbatu? Untuk menjadi tanah subur diperlukan keterbukaan hati kepada sabda Tuhan dan kerelaan dibimbing oleh sabda Tuhan sendiri. Diperlukan usaha terus-menerus melakukan sabda Tuhan yang kita sadari dalam hidup kita. Apakah aku mau melaksanakannya?

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus kembali menegaskan betapa pentingnya mempersiapkan lahan yang baik untuk pertumbuhan benih agar berkembang dan berbuah. Bagi manusia, iman adalah syarat agar hidup berbuah berlimpah ruah. Ada banyak orang yang berada dan memiliki harta dan uang yang tak terbatas tetapi hidup mereka tidak bahagia dan anak-anak mereka tidak sukses. Investasi mereka terutama dalam hal-hal duniawi. Sedangkan jika yang duniawi juga diinvestasikan untuk yang rohani, maka hasilnya pun akan ganda: kesuksesan duniawi plus kebahagiaan rohani.

Orang yang memiliki harta sesungguhnya lebih mudah bahagia daripada orang miskin karena memiliki sarana untuk mengusahakan kebaikan dengan harta dan uang mereka. Yang diperlukan adalah kemauan untuk menggunakan yang duniawi untuk mencapai kekayaan rohani sehingga hidup bisa menghasilkan buah beratus kali lipat: baik yang duniawi dan maupun yang rohani sekaligus.

CONTEMPLATIO:
Ambillah sikap tenang dan bayangkanlah keluargamu bagaikan suatu kebun yang ditumbuhi oleh berbagai tanaman yang bagus. Tanaman itu adalah anggota keluargamu dan bersyukurlah atas mereka karena oleh berkat Tuhan, mereka akan menghasilkan buah karya kehidupan berlimpah.


Sumber:
Paul Suparno, SJ -- Inspirasi Batin 2007
Frietz R. Tambunan, Pr -- Mutiara Iman 2010


July 26, 2010, 19:06 by jetszz

10 Kalimat-kalimat Indah

1. Prayer is not a "spare wheel" that you pull out when in trouble, but it is a "steering wheel" that directs the right path throughout.
(Doa bukanlah suatu "roda cadangan" yang Anda pakai ketika dalam masalah, tetapi merupakan "roda kemudi" yang mengarahkan ke jalan yang benar.)

2. Do you know why a Car's WINDSHIELD is so large & the Rearview Mirror is so small? Because our PAST is not as important as ur FUTURE. Look Ahead and Move on.
(Tahukah Anda mengapa kaca depan mobil begitu besar & kaca spion sangat kecil? Karena MASA LALU kita tidak sepenting MASA DEPAN kita. Lihatlah ke Depan dan Jalanilah.)

3. Friendship is like a BOOK. It takes few seconds to burn, but it takes years to write.
(Persahabatan ibarat sebuah BUKU. Butuh beberapa detik untuk membakar, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk menulisnya.)

4. All things in life are temporary. If going well, enjoy it, they will not last forever. If going wrong, don't worry, they can't last long either.
(Segala sesuatu dalam hidup ini sementara. Jika hidup ini berjalan dengan baik, nikmatilah, jika tidak, jangan cemas, itu hanya sementara.)

5. Old Friends are Gold! New Friends are Diamond! If you get a Diamond, don't forget the Gold! Because to hold a Diamond, you always need a Base of Gold!
(Teman Lama ibarat Emas! Teman Baru ibarat Berlian! Jika Anda mendapatkan Berlian, jangan lupakan Emas! Karena untuk menaruh Berlian dalam perhiasan, dibutuhkan Emas!)

6. Often when we lose hope and think this is the end, GOD smiles from above and says, "Relax, sweetheart, it's just a bend, not the end!
(Seringkali ketika kita kehilangan harapan dan berpikir ini adalah akhir segalanya, TUHAN tersenyum dari atas dan berkata, "Tenang, Sayang, itu hanya sebuah tikungan, bukan ujung!)

7. When GOD solves your problems, you have faith in HIS abilities; when GOD doesn't solve your problems HE has faith in your abilities.
(Ketika Tuhan memecahkan masalah Anda, Anda memiliki kepercayaan akan kesanggupan-Nya, ketika Tuhan tidak menyelesaikan masalah Anda, IA memiliki kepercayaan akan kesanggupan Anda.)

8. A blind person asked Swami Vivekanand: "Can there be anything worse than losing eye sight?" He replied: "Yes, losing your vision!"
(Seorang buta bertanya pada Swami Vivekanand: "Bisakah ada sesuatu yang lebih buruk dari kehilangan penglihatan mata?" Dia menjawab: "Ya, kehilangan visi Anda!")

9. When you pray for others, God listens to you and blesses them, and sometimes, when you are safe and happy, remember that someone has prayed for you.
(Ketika Anda berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkan Anda dan memberkati mereka, dan suatu saat, ketika Anda aman dan bahagia, ingatlah bahwa seseorang telah berdoa untuk Anda.)

10. WORRYING does not take away tomorrows' TROUBLES, it takes away today’s' PEACE.
(KEKHAWATIRAN tidak mengambil PERSOALAN hari esok, melainkan mengambil KEDAMAIAN hari ini.)



diposting oleh: Glass @ WG

Doa Angelus

Sebagian besar umat Katolik Roma mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan serangkaian doa tiga kali dalam sehari. Rangkaian doa tersebut dikenal dengan “Doa Angelus” atau “Doa Malaikat Tuhan” Angelus didaraskan pada jam 6 pagi, jam 12 siang dan jam 6 petang. Nama Angelus diambil dari kata pertama dalam doa tersebut dalam bahasa Latin, artinya “Malaikat”. Beginilah bunyinya: Angelus Domini nuntiavit Mariae atau Malaikat Tuhan menyampaikan kabar kepada Maria.

Doa Angelus mungkin adalah suatu cara bagi umat beriman untuk berdoa bersama seperti dalam Breviary atau Ofisi, yaitu doa yang didoakan oleh para imam dan para anggota komunitas suatu Ordo Religius. Umat yang tidak dapat membaca, dapat menghafalkan doanya.

Doa Angelus sudah dimulai sejak tahun 1263 oleh Santo Bonaventura dalam Sidang Umum Ordo Fransiskan. Doa ini berkembang dari abad ke abad sampai dengan zaman Paus Yohanes XXII yang memberikan indulgensi kepada orang yang mengucapkan Doa Angelus.

Paus Pius V dalam tahun 1571 memperbaharui dan melengkapi bentuknya seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada waktu itu, Doa Angelus diucapkan pada dini hari untuk menghormati kebangkitan Yesus, pada siang hari untuk menghormati sengsara Yesus dan pada senja hari untuk menghormati peristiwa Inkarnasi.

Di Italia, Doa Kemuliaan ditambahkan sesudah setiap Salam Maria untuk menghormati Tritunggal Mahakudus dalam hubungannya dengan Maria.
Paus Yohanes XXIII dalam catatannya tentang lonceng Angelus yang didentangkan pada pada pagi hari menggambarkan, lonceng dini hari merupakan tanda pergantian malam menjadi siang yang gemilang, pada saat itu langit menunduk untuk bertemu dengan bumi.

Paus Paulus VI dalam ensiklik “Marialis Cultus” menulis, “Doa ini sesudah berabad-abad tetap mempertahankan nilainya dan kesegaran aslinya.” Paus Yohanes Paulus II menandaskan bahwa Doa Angelus tak perlu diubah sebab bentuknya sederhana, diangkat dari Injil, dan asal-muasalnya berkaitan dengan doa perdamaian dan misteri Paska.

Banyak keluarga Katolik dengan setia mengucapkan Doa Angelus pagi, siang dan malam hari. Juga di Indonesia, sejak puluhan tahun yang lampau, bila mendengar lonceng Angelus berbunyi, umat langsung meninggalkan segala kesibukannya untuk sejenak memanjatkan Doa Angelus. Pada Masa Paskah, Doa Angelus diganti dengan Doa Ratu Surga.

Dalam Doa Angelus, biasanya satu orang akan mengucapkan suatu kalimat dan yang lain memberikan tanggapan. Mengapa kita tidak mulai ikut mendoakannya juga?

Bapa Suci sendiri memimpin umatnya berdoa Angelus setiap hari Minggu siang.
Beginilah doanya:

Doa Malaikat Tuhan PS 15
Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan,
bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria ...
Aku ini hamba Tuhan,
terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Salam Maria ...
Sabda sudah menjadi daging,
dan tinggal di antara kita.

Salam Maria ...
Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah,
supaya kami dapat menikmati janji Kristus.


Doa:
Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin


DOA RATU SURGA (dalam Masa Paskah)
Ratu Surga bersukacitalah, alleluya,
sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya,
telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya!
Doakanlah kami pada Allah, alleluya!
Bersukacita dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya,
sebab Tuhan sungguh telah bangkit, Alleluya!

Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama BundaNya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

sumber : 1. Kartu Doa Gereja Katolik Roh Kudus, Surabaya; 2. News For Kids, Rm Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; disesuaikan dengan buku Puji Syukur; Komisi Liturgi KWI

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya

thread terkait (silahkan klik)

Doa Rosario (Bahasa Jawa)

Konjuk
Konjuk ing Asma Dalem Hyang Rama, saha Hyang Putra, tuwin Hyang Roh Suci. Amin.

Kawula Pitados
Kawula pitados ing Allah Rama Sang Mahakuwasa ingkang nitahaken bumi-langit, saha ing Gusti Yésus Kristus Putra Dalem ontang-anting Pangéran kawula, ingkang miyos saking Ibu Kenya Maria, kagarba déning kuwasa Dalem Hyang Roh Suci, ingkang nandang sangsara nalika jamanipun Ponsius Pilatus, saha kapenthang séda sarta kasarèkaken, tedhak dhateng papan pangentosan, tigang dintenipun wungu saking séda, mékrad dhateng Swarga, pinarak ing satengen Dalem Allah Rama Sang Mahakuwasa, saking ngriku badhé rawuh ngadili para tiyang gesang utawi pejah. Kawula pitados ing Hyang Roh Suci lan panunggiling para suci, pangapuntening dosa, tangining badan, saha geJustify Fullsang langgeng. Amin.

Mugi Linuhurna
Mugi linuhurna Hyang Rama, saha Hyang Putra, tuwin Hyang Roh Suci, kados ing mula-buka, sapunika, sarta ing salami-laminipun. Amin.

Pinujia
Pinujia Asma Dalem Sri Yésus, Ibu Maria, tuwin Santo Yusuf, sapunika sarta langgeng. Amin.

Rama Kawula
Rama kawula ing Swarga, Asma Dalem kaluhurna, Kraton Dalem mugi rawuha, karsa Dalem kalampahana, wonten ing donya kados in Swarga. Kawula nyuwun rejeki kanggé sapunika, sakathahing lepat nyuwun pangapunten Dalem, kados déné anggèn kawula ugi ngapunten dhateng sesami, kawula nyuwun tinebihna saking panggodha, saha linuwarna saking piawon. Amin.

Sembah Bekti Katur Ing Putra Putri Dalem Sang Hyang Rama
Sembah Bekti Maria
Sembah bekti kawula Dèwi Maria, kekasihing Allah, Pangéran nunggil ing Panjenengan Dalem sami-sami wanita Sang Dèwi pinuji piyambak, saha pinuji ugi wohing salira Dalem Sri Yésus. Dèwi Maria Ibuning Allah, kawula tiyang dosa sami nyuwun pangèstu Dalem, samangké tuwin bénjing dumugining pejah. Amin

Sembah Bekti Katur Ing Ibu Dalem Sang Hyang Putra
Sembah bekti kawula …

Sembah Bekti Katur Ing Pramèswari Dalem Sang Hyang Roh Suci
Sembah bekti kawula …

Mugi Linuhurna …

Pinujia …

I. KABINGAHAN DALEM
1. Malaékat Gabrièl Nglantaraké Dhawuh Marang Ibu Maria
Waosan InjilNanging Malaékat ngandika,”Sampun ajrih Maria, panjenengan sampun manggih sih ing ngarsaning Allah. Lha punika panjenengan badhé anggarbini sarta mbabar putra kakung ingkang kedah panjenengan paringi asma Yésus.” (Lukas 1:30-31)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

2. Ibu Maria Tuwi Santa Elisabét
Waosan InjilLan sakala bareng Elisabèt ngrungu Dèwi Maria uluk salam, jabang bayi ing guwa-garba nglumba lan Elisabèt dhéwé kapenuhan ing Hyang Roh Suci banjur nguwuh kanthi sora sarta munjuk,”Sami-sami wanita panjenengan tuhu pinuji lan pinuji ugi wohing guwa-garba panjenengan.” (Lukas 1:41-42)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

3. Sang Kristus Miyos Ing Bètlehèm
Waosan InjilLan mbeneri ana ing kana mau Maria wanciné mbabar. Panjenengané mbabar putra kakung pambajeng kang nuliginedhong ing gombal lan kasèlèhaké ana ing pamakanan awit ing panginepan wis ora oman papan. (Lukas 2:6-7)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

4. Sang Kristus Dicaosaké Ana Ing Padaleman Suci
Waosan InjilLan Siméon nambut Sang Timur binopong sarwa memuji Allah, unjuké :”Ing samangké pun abdi kalilana mundur kanthi tentrem dhuh Pangéran, manut sabda Dalem, awit mripat kawula sampun nyipati pangentasan Dalem.” (Lukas 2:28-30)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

5. Sang Kristus Kapanggih Ana Ing Padaleman Suci
Waosan InjilIng telung dinané ketemu ana ing padaleman suci, lenggah ing antarané para guru, mirengaké sarta tetakèn. Kabèh kang ngrungu padha gumun marang landheping panggrahita lan wangsulané. (Lukas 2:46-47)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

II. SUMUNAR DALEM
1. Gusti Yésus Dibabtis Ana Ing Bengawan Yordhan
Waosan InjilLan dhèk samana Gusti Yésus rawuh saka Nasarèt ing tanah Galiléa, sarta dibabtis Yoanes ana ing Bengawan Yordhan. Lan sanalika bareng mentas saka ing banyu, banjur pirsa ing langit sigar, lan Hyang Roh Suci pindha dara tumurun, lan nedhaki Panjenengané. Banjur ana swara dumeling saka ing langit,”Kowé iku PutraKu kinasih. Kowé kang gawé renaKu.” (Markus 1:9-11)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

2. Gusti Yésus Paring Pratéla Ana Pangantènan Ing Kana
Waosan InjilIbu Dalem banjur ngandikamarang para abdi,”Kabèh kang didhawuhaké tindakna!” Ing kana ana genthong watu enem, dipasang kanggo wisuh miturut padatan cara Yahudi. Siji-sijiné bisa amot loro utawa telung metreta. Gusti Yésus banjur dhawuh,”Genthong iku kebakana banyu.” Genthong padha diisèni nganti kebak mancep. Nuli Gusti Yésus dhawuh,”Saiki cidhukana lan caosna ,marang sing ngasta pramugari.” Iya banjur dicaosaké. (Yoanes 2:5-8)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

3. Gusti Yésus Wiwit Mucal Lan Dhawuh Padha Martobat
Waosan InjilBakda Yoanes dicekel, Gusti Yésus banjur tindak menyang Galiléa, martakaké kabar kabungahan kang tumurun saka Allah. Pangandikané,”Wus tekan titi-mangsané, kratoning Allah wus cepak. Padha matobata lan ngandela marang kabar kabungahan.” (Markus 1:14-15)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

4. Gusti Yésus Kamulyakaké Ana Ing Gunung Tabor
Waosan InjilLan let enem dina Gusti Yésus ngathi Pétrus, Yakobus, lan Yoanes diajak minggah ing gunung dhuwur, miyambak. Lan Gusti santun warni anaing ngarepé. Agemané dadi sumorot putih memplak. Ana ing donya ora ana wong bisa musoni sing mengkono. Nabi Elias lan Nabi Musa padha ngatingal, lan ngendikan karo Gusti Yésus. (Markus 9:2-4)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

5. Gusti Yésus Yasa Sakramèn Ekaristi
Waosan InjilNuli Gusti mundhut roti, munjuk sembah nuwun, roti dicuwil lan diparingaké sarwa ngandika,”Iki Sliraku, kang bakal kaulungaké nglabuhi kowé. Iki tindakna minangka pangéling-éling marang Aku. Semono uga Gusti mundhut tuwung, sawisé dhahar, sarwa ngandhika,”Iki tuwung Prajanjian Anyar ana ing Rahku, kang diutahaké nglabuhi kowé. (Lukas 22:19-20)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

III. KASANGSARAN DALEM
1. Gusti Yésus Sungkawa Ana Ing Taman Jaétun
Waosan Injil”Dhuh Rama, manawi dados karsa Dalem mugi tuwung punika kasingkirna saking kawula, nanging sanès kajeng kawula, karsa Dalem kalampahana.” (Lukas 22:42)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

2. Gusti Yésus Disapu
Waosan InjilWong kang padha njaga Gusti, moyoki Panjenengané lan ngantemi. Gusti dikrukubi lan diantemi wadana Dalem sarta bola-bali ditakoni, celathuné,”Wis wacanen, sapa sing ngantemi kowé iki. Lan isih akèh manèh pitembungané marang Gusti wujud cecamah. (Lukas 22:63-65)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

3. Gusti Yésus Diagemi Makutha Eri
Waosan InjilLan para prajurit ngenam makutha eri, dietrapaké ing mustaka Dalem. Nuli Panjenengané diagemi sandhangan abang jingga, banjur pada sowan matur,”Pangabekti Ratuning tiyang Yahudi” lan Gusti diantemi.” (Yoanes 19:2-3)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

4. Gusti Yésus Manggul Pamenthangan
Waosan InjilGusti Yésus ditampilan digawa lunga. Gusti manggul salib Dalem piyambak tindak menyang papan kang diarani Kalpari, tembung Hibrani Golgota. Ana ing kana Gusti disalib lan bebarengan karo Panjenengané ana wong loro kang disalib ngiwa-nengen, déné Gusti Yésus ana ing tengah.” (Yoanes 19:17-18)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

5. Gusti Yésus Séda Ana Ing Pamenthangan
Waosan InjilKanthi nguwuh swanten sora, Gusti Yésus ngendika,”Dhuh Rama, kawula masrahaken sukma kawula ing asta Dalem, lan ngendika mangkono iku, Gusti Yésus séda. Bareng penatus weruh lelakon mau, mulyakaké Allah, sarta celathu,”Mula nyata Wong iki ora salah.” (Lukas 23:46-47)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

IV. KAMULYAN DALEM
1. Gusti Yésus Wungu Saka Séda
Waosan InjilWis ora ana ing kéné, wis wungu. Élinga marang pangandikané dhék ana ing Galiléya, sing mangkéné uniné : “Wus Pinasthi Putraning Manungsa kudu diulungaké marang tanganing wong dosa, sarta disalib lan ing telung dinané bakal wungu saka séda.” (Lukas 24:6-7)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

2. Gusti Mékrad Menyang Swarga
Waosan Injil”Nuli para murid padha diajak nganti tekan Bétania, lan ngumbulaké asta. Gusti maringi berkah lan bareng karo anggoné paring berkah Gusti nilar para rasul, lan kasengkakaké menyang swarga.” (Lukas 24:50-51)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

3. Hyang Roh Suci Tedhak
Waosan Injil”Kabèh padha kapenuhan ing Hyang Roh Suci, sarta banjur padha guneman nganggo basa warna-warni, mojar manut sakaparengé Hyang Roh Suci.” (Kisah Para Rasul 2:4)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

4. Ibu Maria Kapundhut Menyang Swarga
Waosan Injil”Nanging kabèh iku ana urut-urutane, sing dhisik dhéwé Sang Kristus, kang jumeneng panunggul, banjur liya-liyané kang dadi kagungan Dalem Sang Kristus, yèn mbésuk rawuh.” (1 Korintus 15:23)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

5. Ibu Maria Tampi Makutha Ana Ing Swarga
Waosan Injil”Ana pratandha katon ing langit, wanodya asingep surya lan rembulan, ana ing sangandhaping pada déné mustakané jinamang lintang rolas.” (Wahyu 12:1)
† Rama kawula ing Swarga …
† Sembah bekti kawula Dèwi Maria … (10x)
† Mugi linuhurna Hyang Rama …
† Pinujia Asma Dalem …

Sumber:
http://bundagereja.wordpress.com/category/teks-doa/